Jumat, 11 Mei 2012

Bismillah


Dua orang badui, satu orang tunduk dan tawadhu’, satu lagi seorang yang tertipu; tinggi hati lagi sombong. Keduanya melakukan perjalanan di padang pasir untuk satu keperluan. Si badui tawadhu’ mengikuti peraturan padang pasir, bahwa siapa yang akan melakukan perjalanan di padang pasir haruslah ada penjamin dan berada dalam perlindungan seorang kepala suku, agar mudah dalam perjalanannya. Adapun si tinggi hati, enggan meminta perlindungan.

Pegunungan didaki, gurun diseberangi, si tawadhu’ selalu mendapat kemudahan dalam perjalanannya. Setiap bertemu sebuah kemah atau perkampungan, ia menyebut nama kepala sukunya, maka sambutan hangat dan bantuan selalu ia dapat. Setiap bertemu perampok padang pasir, ia sebut nama kepala sukunya, maka perampok pun pergi meninggalkannya tanpa mengganggunya sedikitpun.

Si badui tinggi hati menemui hal sebaliknya, tidak ada bantuan yang meringankannya dari penduduk, juga tidak ada kasih sayang dan penghormatan dari para perampok. Perjalanannya sungguh berat, tersia-sia, bahkan kehilangan arah tujuan.... bingung dan tersesat, tidak mengenali diri.... terus berjalan mengenali padang pasir..... lelah, tak pernah sampai, tak tahu kemana.....

***

Wahai jiwa, siapakah badui tinggi hati itu? Padang pasir yang luas adalah ibarat dunia ini. Kefakiran dan kelemahan tiada batasnya, sebagaimana musuh dan kebutuhan tiada habisnya. Sebutlah nama Raja yang hakiki bagi padang pasir ini, penguasanya yang kekal, untuk selamat dari kehinaan dan ketakutan.

Ia adalah ucapan ‘bismillah’ harta terpendam yang tak ternilai, kefakiran hamba terikat dengan luas Rahmat-Nya, kelemahan hamba tergantung pada ke-Maha Mampuan-Nya yang tak terbatas. Maka kefakiran dan kelemahan tertolong di hadapan yang Maha Merahmati dan Maha Mampu.

Rasulullah SAW mengajarkan, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahirrahmanirrahim, maka ia terputus (sedikit keberkahannya).”

Mutiara Amaly Vol.55 hal 32

Jangan Lemah


“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini (jalan Allah), padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakaria digergaji, Ibrahim dilemparkan ke dalam api yang membara, dan Muhammad SAW disiksa. Dan ANDA, menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu.......??”

-Ibnu Qayyim Al Jauziyyah-

Tenang


Terkadang bila yang gelap mendatang, jiwa mula dirundung resah. Di saat itu, mulalah keluar kata-kata untuk meluapkan rasa pedih di dalam jiwa. Ibarat tiada lagi tempat untuk bergantung. Sungguh, waktu itu, syaitan akan mulai memasukkan jarum-jarum durhaka dan ketidakpuasan hati.

Jiwa yang sudah gelap dan resah akan dilingkari sangkaan-sangkaan buruk. Namun jiwa yang ada sedikit garis cahaya yang samar-samar, meminta untuk kembali. Kembali kepada Tuhannya. Karena hanya di situ ada ketenangan.

Di situ ada pengharapan. Di situ ada cahaya yang akan menerangi hati dan jiwanya yang kini kering. Kering minta dibasahkan dengan air mata pengharapan kepada Tuhannya. Di situ letaknya cinta. Di situ letaknya bahagia.

Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar: (yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: ‘Sesungguhnya Kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah Kami kembali.’” (Q.S Al Baqarah: 155-156)

dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan sholat, dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali pada orang-orang yang khusyuk.” (Q.S Al Baqarah: 45)

Jiwa itu terus bangkit dari pedih desakan jiwa dan gelap hasutan syaitan. Bangkit menemui Allah SWT, Rabb dan Ilahnya. Di situ, di tempat sujudnya, segala curahan air mata dan harapnya diluapkan semua. Hampir tiada tinggal lagi. Desah sendu jiwanya seakan terobati dengan ayat-ayat Kalam Allah yang dibaca.

Hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenang. Di saat itu juga dia tahu sabarnya diuji. Ujian itu untuk menguji jiwanya, sabar ataupun tidak. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

Walaupun mungkin ada tangan yang menghulur, bahu yang menunggu, telinga yang mendengar, namun tiada yang lebih daripada perlindungan dan kasih sayang Allah.

Karena tangan yang menghulur, bahu yang menunggu itu juga mengharapkan kekuatan dari Allah dan mengharapkan Allah. Dia juga mempunyai hati dan jiwa yang juga kadang-kadang ditantang dan diuji.

Mutiara Amaly, Volume 55, hal.4

Bukan masalah yang berat, penyakit yang berbahaya itu
penyakit yang berbahaya adalah iman yang lemah dan keputus-asaan

Bukan fisik yang lemah, yang merubuhkan itu
yang merubuhkan ialah jiwa yang menyerah pada bisikan syaitan

Satu-satunya cara menyelesaikan masalah rumit ialah
dengan membuatnya jadi lebih nyata dan sederhana, lalu menghadapinya

astaghfirullaahal'adziim...
subhaanallaahi wabihamdihi...
subhaanallaahal 'adziim...

Selasa, 08 Mei 2012

Take Your Time But "Hurry"


Enggar-enggar penggalih


“Kalau libur pulang ya dek”, kata papa membuka obrolan kami di sepanjang perjalanan mengantarku ke tempat kerja. “Dua tiga hari libur pulanglah, santai-santai, istirahat, enggar-enggar penggalih (melapang-lapangkan hati)”, sambung papa lagi. “Hahaha, iya pa..” aku geli mendenggar istilah dan anjuran untuk ‘enggar-enggar penggalih’ seakan selama ini aku sangat tegang dan tidak rileks menjalani hidup.

Jam menunjukkan pukul 7.45 WIB. Lima belas menit sebelum masuk kerja, aku memutuskan untuk mengajak papa sarapan bersama di samping tempat kerja. “Pa, sarapan yuk. Aku traktir.” Kataku berlagak santai. “Bener nih?” kata papa. “Iya, ayuk...” kataku meyakinkan. Saat itu baru pertama kalinya aku menraktir papa dengan sedikit gaji yang kupunya. Seakan aku ingin membuktikan, aku pun bisa menikmati hidup. Hehehe.
 
Di momen sarapan pagi berdua yang sangat langka itu papa ungkapkan harapan beliau, ide, pikiran terkait dengan hidupku, melanjutkan obrolan kami di sepanjang perjalanan. Dan untuk kesekian kalinya aku meleburkan diri dengan keluargaku, lalu membuka diriku, mempersilakan (kali ini) orang tuaku sendiri mengenali duniaku dan aku berharap mereka mau mengerti.

“Doakan ya pa, insyaAllah bisa sembuh. Hanya dengan mendengar Al Quran aja jantungku berdebar-debar, tangan gemetar dan keringat dingin. Aku memang kaget dengan reaksiku, tapi insyaAllah gapapa. Aku disarankan untuk bekam.” Papa tampak kaget, lalu pandangan beliau menerawang sambil mendengar penjelasanku, seperti tak mau mendengar ,bercampur sedih, tapi berusaha tetap tenang. ‘Bagaimanapun papa pasti bisa berpikir realistis, seperti laki-laki pada umumnya’ batinku, dan aku tahu papa itu orangnya kuat.

“Ya, yang penting tetap berusaha dek.” Kata papa mengakhiri obrolan kami. Dan untuk kesekian kalinya kuasa atas hidupku dikembalikan ke diriku *hehe lebay* bagiku kalimat papa itu seperti terdengar, “Terserah kamu dek, kalau memang itu yang kamu yakini.”

Bisa lebih santai dikit ga?


“Aku berangkat ya mbak,” kataku setelah menyelesaikan membaca buku petunjuk praktikum yang kubawa pulang ke rumah. Aku pulang ke rumah sabtu sore menjelang maghrib, pagi hari ditelpon seorang ibu-ibu ketua bidangku untuk rapat siang harinya di salah satu masjid di kota jogja. Aku menyanggupi, mau bagaimana lagi. Jadilah aku balik ke jogja sebelum dzuhur, sambil berbekal nasi dan lauk jatah makan siangku di rumah, hehe.

“Dek, kamu bisa lebih santai dikit ga sih?” kata kakakku yang tengah melihatku mantengin buku saat itu. “Hehehe, aku santai kok mbak...” jawabku sambil nyengir. Begitulah, mungkin aku tampak terlalu serius atau tegang dengan aktivitasku sendiri. Dan kurang tampak enjoy my precious live, mungkin.

Dinding kamarku seperti ini ya?


Memang tegang hidupku, harus kuakui. Bagiku dunia ini bukan tempatnya bersantai-santai *ceile... kalaupun ada kesempatan untuk bersantai itu hadiah, itu anugerah, tapi memang bukan tujuanku mencari kenyamanan yang membuatku terlena dalam hidup. Tapi itu yang menyebabkan aku menjadi orang asing di kehidupanku sendiri, aku lebih sering seperti hidup di dunia pikiran (dan perasaan)-ku sendiri yang rumit, bukan di dunia nyata yang tampak sederhana bersama kebanyakan orang.

Saat SMA, saat aku tengah asyik berkhalwat dengan-Nya selepas sholat Dhuha, tiba-tiba mataku terbuka menatap dinding kamarku yang berwarna putih, dengan tekstur tidak halus, mengelupas catnya di beberapa bagian, tampak dinding dasarnya bewarna hijau muda. ‘Oh, dinding kamarku kayak gini ya? Kenapa bahkan aku ga pernah bisa melihat dinding kamarku sendiri dengan pandangan yang jernih dan jelas selama ini...?’ "Astagfirullah..." tangisku iba terhadap kondisi diriku sendiri.

Take your time, but "hurry"

Yang bisa kulakukan untuk bisa lebih menikmati hidup adalah pertama, pelihara dan kembangbiakkan energi positif. Aku tak bisa hidup dengan sedikit saja energi negatif, karna diriku berbakat mengembangbiakkan energi apa saja yang aku terima, jadi aku harus tegas memilih. Emosiku masih sangat labil. Aku harus memupuk dan merawat iman yang masih tunas ini, ibarat janin yang masih lemah terikat di dalam rahim. Di awal kuliah, guru ngajiku berkomentar “Embun itu seperti kapas. Putih, halus tapi kalau kena air mengkerut.” Haha. Mantan Kadeptku -masih di awal semester kuliah itu juga- berpesan, “Saya yakin antum bisa menjadi jauh lebih baik dari hari ini.” Aha! insyaAllah.


Kedua, take your time. Tak perlu terburu-buru, tak ada yang mengejarku. Aku perlu memendekkan pandangan untuk sekedar berpikir, “Waktu belajarku di sini tinggal 7 bulan lagi. Target hafalanku belum tercapai.” atau berencana “Aku ingin melakukan ini untuk mama, melakukan itu untuk papa. Apa yang bisa kulakukan? Besok aku akan mendampingi praktikum topik ini, buku apa yang harus aku baca?” lalu take action.

Ketiga, but "hurry". Karna waktu terus berjalan, kata seorang Psikolog ‘Kita tak akan kembali muda’. Juga tak seharusnya aku asyik dengan diri dan duniaku sendiri, aku harus beranjak. Kata guru ngajiku, ‘Anti itu terlalu idealis.’ Kata temanku, ‘Jangan terlalu banyak bermimpi’. Ya, aku harus beranjak atau akan ada komentar pedas yang kuterima, ‘Menikah saja dengan Nabi..’ atau ‘Ya udah, hidup di surga aja!’ Hahaha, di dunia ini memang ga ada yang abadi dan sempurna. Oke oke, pelan tapi pasti insyaAllah aku segera beranjak.

Jadi?

Ya udah deh, santai aja. Tapi serius. Ujianku memang berat, kondisiku memang sulit, tapi aku tahu aku bisa. Jalan terus, Allah selalu Membersamai. Untuk masalah aqidah dan masalah agama pakai kaca mata kuda, untuk mengejawantahkannya di urusan dunia buka mata dan pikiran seluas-luasnya. Jangan melewatkan satu hal penting ini: kebergantungan kepada Allah, itu yang bisa menetralisir kebergantungan terhadap makhluk, dan menguatkan karakter diri, menaikkan daya tahan, meyakinkan langkah, memantapkan pilihan.
 
Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Yang akan menyelamatkan jiwa, agama dan hidup kita sendiri? Bersama Allah dan Rosul-Nya, berbekal pedoman dari-Nya, insyaAllah kita harus bisa melakukan yang terbaik, menjadi lebih baik dari hari ke hari untuk menggapai mimpi kita, surga-Nya. Aamiin! Kabulkanlah ya Allah...

Minggu, 06 Mei 2012

Nasihat untuk Setiap Mukmin

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Saudara/iku, aku ingin menasehatimu dan menasehati diriku sendiri. Bukan karna engkau siapa dan aku siapa. Hanya karna engkau dan aku bersaudara dalam iman, kita mengimani Tuhan yang sama Allah SWT, mengimani Utusan Allah yang sama Muhammad SAW dan memeluk agama yang sama, Islam yang adalah rahmat sekalian alam.

Setiap manusia pasti pernah/akan mengalami saat-saat ujian tersulit di dalam hidupnya, tak terkecuali dengan kita. Tak ada satu manusia pun yang sempurna, bahkan Rosulullah SAW pun pernah bermuka masam dan kemudian ditegur Allah SWT di surat 'Abasa, Nabi Yunus As pernah berpaling dari umatnya dan Allah Menghukumnya dengan ditelannya beliau di dalam perut ikan, terhimpit di dalam kegelapan hingga beliau bertaubat, mengakui bahwa beliau termasuk orang-orang yang dzalim hingga Allah Mengampuninya.

Semua orang pasti pernah melakukan salah dan dosa kemudian ditegur Allah melalui ujian, tak terkecuali dengan kita. Teguran berupa ujian tersebut adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya, semoga termasuk juga kita. Maka sudah seharusnya setiap manusia yang beriman tidak terlarut dalam kesedihan ketika diuji, tapi segera bercermin melihat dosa dan kesalahan-kesalahannya di masa lalu, termasuk juga kita. Maka sudah seharusnya bagi setiap manusia yang beriman yang ditimpa ujian meyadari, bahwa tidak ada solusi lain dari ujian selain kembali kepada-Nya dengan taubat nasuha, menjalankan syari'at-Nya dengan benar, mengikuti kesalahan dengan kebaikan, termasuk juga kita.

Jangan merasa aman dari azab-Nya dan waspadai pintu syaitan

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh mencari ridho Tuhannya, Allah akan menunjukkan jalan-Nya, melapangkan hati dan akalnya untuk menerima cahaya-Nya dan membuatnya paham akan agama, semoga termasuk juga kita. Hati dan pikiran orang yang beriman lapang dan bersih untuk menerima nasihat dan petunjuk, semoga termasuk juga kita. Mereka menyadari bahwa argumen di hadapan manusia itu tidak perlu, karna mereka meyakini sifat Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Halus -atas setiap kesalahan dan dosa-dosa manusia, Allah yang lebih tahu- semoga begitu juga dengan kita.

Maka jangan pernah merasa aman dari azab-Nya, bacalah Al Quran jika ingin mengingat betapa dahsyat murka-Nya. Kenali diri kita sebagai manusia, sadari posisi kita sebagai hamba, pahami tentang jiwa manusia, ruh, hawa nafsu, kenali sifat dunia dan berbagai fatamorgana yang bisa menjebak dan menipu. Bertanyalah pada diri, untuk apa aku hidup? Apa yang aku cari dalam hidup? Siapa yang aku ikuti petunjuknya dan siapa yang aku jadikan panutan dalam hidup? Bercerminlah pada diri, amal apa yang sudah aku lakukan untuk hidup sesudah mati? Bukankah hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian?

Saudara/iku, sadari bahwa syaitan adalah sejahat-jahat makhluk, musuh yang nyata bagi manusia. Kita tak bisa melihat mereka, tapi mereka bisa melihat kita. Mereka mengalir di setiap aliran darah anak Adam As, termasuk aliran darah kita. Syaitan, akan melakukan berbagai macam cara untuk memalingkan manusia dari Tuhannya, termasuk juga kita. Jika sudah berpaling, maka syaitan akan melepaskan dirinya dari manusia, karna sesungguhnya ia pun takut kepada Tuhannya! Relakah kita? Syaitan sudah bersumpah akan menggoda manusia hingga hari kiamat, ia bersembunyi di dalam hati, ia mengintai setiap manusia. Godaannya semakin gencar dan kuat terhadap orang-orang yang imannya kuat, apakah juga mungkin termasuk kita?

Katakanlah "Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk"

Di dalam jiwa manusia terdapat ayat-ayat Allah, "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." Q.S Asy Syams: 8 begitu juga dengan kita. Fujur dan takwa itu akan terus bersaing, tergantung keputusan tiap manusia akan mengikuti dan memperturutkan yang mana.

Maka, meski dunia ini penuh dengan kepalsuan dan hal-hal yang samar pandangan orang-orang yang beriman itu jernih, hatinya bersih karna mengikuti ilham ketakwaannya. Yaitu takwa ibarat burung yang memiliki dua sayap yang mutlak harus ia miliki agar mampu terbang: menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga begitu juga dengan kita.

Maka, meski dunia ini penuh dengan kepalsuan dan hal-hal yang samar pandangan orang-orang yang beriman itu jernih, hatinya bersih karna mengikuti ilham ketakwaannya. Yaitu bertakwa kepada Allah dengan panduan yang jelas, yaitu surat cinta dari Tuhannya, Al Quran yang menjadi petunjuk, imam, pembeda antara yang haq dan yang batil, penawar bagi penyakit hati, jiwa dan raga. InsyaAllah begitu juga dengan kita.

Maka, meski dunia ini penuh dengan kepalsuan dan hal-hal yang samar pandangan orang-orang yang beriman itu jernih, hatinya bersih karna mengikuti ilham ketakwaannya. Apa yang ada di dalam kehidupan mereka sesungguhnya hanya ada dua pilihan: fujur atau takwa, neraka atau surga, berpihak pada hizbusy syaitan atau hizbullah, memperturutkan hawa nafsu atau mengejar ridho Allah. Semoga begitu juga dengan kita.

Maka, meski dunia ini penuh dengan kepalsuan dan hal-hal yang samar pandangan orang-orang yang beriman itu jernih, hatinya bersih karna mengikuti ilham ketakwaannya. Tidak ada keraguan di dalam hati mereka sedikitpun akan kebenaran, karna keraguan hanya milik orang munafik. Dan mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya, karna yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah kaum kafir. Semoga begitu juga dengan kita.

Ikhlaskan dan luruskan kembali niat, melangkahlah dengan yakin dan fokus

Saudara/iku, aku ingin menasehatimu dan menasehati diriku sendiri. Bukan karna engkau siapa dan aku siapa. Hanya karna engkau dan aku bersaudara dalam iman, kita mengimani Tuhan dan Utusan Allah yang sama, memeluk agama yang sama. Ingatlah lima hal sebelum lima hal lainnya di dalam hidup kita, sesungguhnya kita pasti akan mengalaminya. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati.

Saudara/iku, aku tidak ingin kita semua termasuk orang-orang yang merugi, maka mari menggapai pengecualiannya: beriman kepada Allah dengan iman yang benar, mengerjakan amal saleh, saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. Raih ketenangan jiwa kita dalam kesendirian, temukan bahwa Allah adalah dekat, sadari saat kita memutuskan sesuatu apakah hati nurani yang bicara atau bisikan syaitan yang menguasai. Waspadai pintu-pintu syaitan: berlebihan dalam makan, berlebihan dalam bicara, berlebihan dalam memandang dan berlebihan dalam bergaul.

Saudara/iku, setiap ujian adalah saat yang baik bagi kita untuk berkontemplasi, bercermin memperbaiki diri. Akui kesalahan dan dosa-dosa kita di masa lalu, mari penuhi syarat-syarat taubat nasuha. Ingatkan selalu hati kita dari tidur pulasnya, ingatkan bahwa segala sesuatu dalam hidup kita sejatinya adalah ibadah, dan ibadah hanya akan diterima jika (1) Diniatkan ikhlas karna Allah (2) Dijalankan dengan cara yang sesuai dengan syariat Allah dan Rosul-Nya. Maka ikhlaskan kembali setiap niat-niat kita dan mari belajar takwa.

Di saat-saat tersulit, orang-orang beriman akan mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, menisbikan ketergantungannya kepada makhluk. Mereka merumuskan dan memantapkan kembali visi hidupnya, lalu melangkah kembali dengan yakin dan fokus. Semoga begitu juga dengan kita.

Mereka yakin akan pertolongan dan janji-Nya, bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima taubat, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Mereka yakin akan pertolongan dan janji-Nya, bahwa jiwa dan harta mereka akan dibeli-Nya dengan surga, insyaAllah! Semoga begitu juga dengan kita.

Ikhlas-kan Niat, Melangkah Yakin dan Fokus

Manusia diciptakan untuk beribadah


“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” QS. Adz-Dzariyat: 56

Dalam ketaatan beribadah, ujian dan cobaan adalah keniscayaan

"Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada mereka orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan inna lillahi wainailaihirojiun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)." QS. Al-Baqarah: 155-156
  
‘Cobaan akan selalu menerpa setiap muslim baik dalam masalah jiwa, anak, dan hartanya hingga mereka menemui Allah Ta’ala tanpa dosa sedikitpun.’ (HR. Tirmidzi)

Perlu sabar, ikhlas, ridha, dan bersyukur menjalani ujian
 
'Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya.' (HR. Muslim)


Panduan Allah menjalani ujian

"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu." QS. Al-Baqarah 45. "Dan Allah bersama orang-orang yang sabar." QS. Al Baqarah: 249

Allah SWT tidak menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya

"Allah mencintai orang-orang yang sabar." Q.S Ali Imran: 146. "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." Q.S Az Zumar: 10. 'Sesungguhnya kalian tidak pernah menerima nikmat yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.' (HR. Bukhari)

Allah juga akan menghapuskan dosa 
'Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim baik berupa keletihan, kepayahan, kegundahan, kesedihan, kesakitan dan kegalauan bahkan duri yang mengenai kakinya, Allah akan menghapus dengannya sebagian dari kesalahannya.' (HR. Bukhari dan Muslim)